Jumat, 23 September 2011

Iklan & Kekerasan Simbolik




Iklan merupakan bagian di dalam kehidupan kita sehari-hari. Bagaimana tidak? Setiap hari hampir tidak mungkin kita tidak bertemu dengan iklan. Iklan telah mengepung kita dimanapun kita berada, baik di rumah, sekolah, kampus, kantor dan tentunya tempat umum. Para pengiklan sepertinya selalu merasa "gatal" jika masih ada ruang kosong yang tidak digunakan untuk mereka beriklan.

Dengan "membanjirnya" iklan di ruang-ruang publik yang ada, iklan telah membuat perubahan-perubahan yang berdampak pada perilaku konsumen. Saat ini iklan telah mengalami pergeseran dari sebuah media untuk mengkomunikasikan suatu produk, menjadi media yang dapat dengan kuat membentuk sistem nilai, gaya hidup dan selera konsumen.




Pollay membagi fungsi komunikasi iklan menjadi dua, yaitu:  
1. Fungsi informasional, iklan memberitahukan kepada konsumen tentang karakteristik produk. 
2. Fungsi transformational, iklan berusaha untuk mengubah sikap-sikap yang dimiliki oleh konsumen terhadap merek, pola-pola belanja, gaya hidup, teknik-teknik mencapai sukses dan sebagainya.



Bagaimana Pengiklan Memproduksi Pesan?

Dalam hal ini, sistem yang terjadi adalah fungsi Encoding/Decoding. Para pembuat iklan adalah pihak yang melakukan encoding atau pengkodean pesan-pesan, ide dan ideologi yang ingin disampaikan. Sedangkan konsumen atau khalayak sebagai decoding memiliki kebebasan dalam menterjemahkan kode-kode tersebut.



Lalu, Bagaimana Pesan Diterima Khalayak?

Hall  melihat ada tiga kemungkinan dari resepsi khalayak mengenai pesan iklan yang diterimanya, yaitu:
1) Dominant hegemonic, apabila khalayak menafsirkan pesan sesuai dengan apa yang ingin disampaikan oleh media/pengiklan;
2) Negotiated, apabila khalayak mengambil posisi untuk secara terbatas (subtly) mengkontestasi makna pesan;
3) Oppositional, apabila khalayak mengambil posisi yang berseberangan atau menolak samasekali pesan yang disampaikan.

Ketiga kemungkinan proses decoding yang dilakukan khalayak dipengaruhi
oleh budaya, disposisi politik, hubungan mereka terhadap jaringan
kekuasan yang lebih luas dan akses terhadap teknologi media massa (radio,
televisi, internet, dsb.)



Memahami Iklan Dengan Konsep Kekerasan Simbolik Bourdieu

Bagi Bourdieu, seluruh tindakan pedagogis baik itu yang diselenggarakan di rumah, sekolah, media atau dimanapun memiliki muatan kekerasan simbolik selama pelaku memiliki kuasa dalam menentukan sistem nilai  atas pelaku lainnya, sebuah kekuasaan yang berakar pada relasi kuasa antara kelas-kelas dan atau kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat.

Diasumsikan bahwa media dan iklan merupakan sarana yang digunakan untuk melakukan tindakan pedagogis dari kelas atau kelompok sosial tertentu.

Iklan menjadi sebuah mesin kekerasan simbolik yang bisa menciptakan sistem kategorisasi, klasifikasi, dan definisi sosial tertentu sesuai dengan kepentingan kelas atau kelompok dominan.

Image-image simbolik yang diproduksi iklan seperti misalnya kebahagiaan, keharmonisan, kecantikan, kejantanan, gaya hidup modern pada dasarnya merupakan sistem nilai yang dimiliki kelas atau kelompok dominan yang diedukasi dan ditanamkan pada suatu kelompok masyarakat.



Kesimpulan

Proses penanaman nilai melalui iklan dapat membentuk habitus tentang sistem nilai tersebut. Sehingga iklan tidak hanya menciptakan subjek yang dapat meregulasi diri terkait konsumsi produk namun juga subjek yang dapat meregulasi diri terkait klasifikasi dunia sosial, disini kemudian terjadilah kekerasan simbolik.

Jumat, 16 September 2011

Jurnalisme Warga, Kebutuhan atau Masalah?


Sebelum memulai pembahasan, ada pertanyaan mendasar yang harus kita renungkan mengenai topik ini, yaitu:

1. Apa itu Jurnalisme Warga?

2. Mengapa harus ada Jurnalisme Warga?

3. Apakah Jurnalisme Warga telah dilakukan berdasarkan nilai-nilai berita dan kode etik jurnalistik?

Sebelumnya, apakah anda sudah menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas? Jika belum, mari kita kupas satu per satu pertanyaan tersebut;

Jurnalisme warga adalah:
  • Jurnalisme yang menempatkan warga sebagai objek.
  • Warga secara aktif-partisipatoris terlibat dalam proses pencarian, pengolahan dan penyajian informasi
  • Setiap orang dapat menjadi informan sekaligus jurnalis
  • Warga tidak hanya menjadi penonton, namun menjadi peserta aktif dalam diskusi dan problem solving di ruang publik media.

Keharusan pada jurnalisme warga, yaitu ;
  • Prinsip partisipatori dan emansipasi publik
  • Ruang media sebagai ruang publik deliberatif
  • Keterbatasan media menangkap berbagai realitas yang majemuk/penting/signifikans/khas/individual/lokal
  • Teknologi informasi dan komunikasi bukan masalah
  • Masyarakat semakin familier dengan teknologi pendukung pencarian/perekaman/pengolahan/   penyebaran informasi 
  • Keterbatasan akses warga ke media 
  • Pemilihan narasumber  yang elitis
  • Pemilihan isu yang elitis Masyarakat hanya sebagai penonton pasif, bukan pelaku peristiwa  
  • Semakin banyak pilihan medium komunikasi dan interaksi bagi setiap orang 
  • Ruang media sebagai ruang publik yang elitis
Apa yang menyebabkan munculnya jurnalisme warga?
  • Media yang asyik dengan dirinya sendiri.
  • Menentukan skala prioritas pemberitaan pertama-tama berdasarkan agenda, nilai, orientasi dan keyakinannya sendiri, bukan berdasarkan minat, kepentingan dan kebutuhan pembaca
  • Media yang tidak benar-benar menyadari pelibatan publik dalam penentuan agenda setting media sebagai konsekuensi status ruang publik


Media yang digunakan jurnalisme warga;
  • Radio/Televisi melakukan interaksi interaktif dengan audience
  • Audience mengirimkan rekaman video / audio kepada media televisi/radio
  • Online media memberikan kesempatan kepada pembacanya untuk memberikan komentar dan berinteraksi satu sama lain.
  • Blog, Twitter sebagai forum komunikasi, pertukaran informasi, dialog bahkan  penyajian berita.
  • dll
Apakah jurnalisme warga sudah berdasarkan nilai-nilai berita dan kode etik jurnalistik?



Nilai Berita:
  1. Aktualitas
  2. Akurasi
  3. Keberimbangan
  4. Relevansi
  5. Signifikansi
  6. Prominensi
  7. Magnitude
  8. Proksimitas
  9. Kompetensi Sumber
Kode Etik Jurnalistik:
  • Tidak Berprasangka
  • Mengandung Konfirmasi
  • Tidak Sarkastis, Sadistis, Pornografis
  • Menggunakan bahasa yang benar
  • Berdasarkan Fakta
  • Tidak beropini
  • Akurasi data, fakta, ilustrasi
Dilema yang dihadapi pada jurnalisme warga:
  • Kecepatan        vs   Kelengkapan / Kedalaman
  • Partisipatory    vs   Esensi / Kualitas Jurnalistik
  • Ruang Privat    vs  Ruang Publik
Perluasan ukuran dan parameter ruang publik guna memperkuat perwujudan prinsip-prinsip partisipasi publik

 atau


Kolonisasi Ruang Publik oleh urusan-urusan privat?
Kasus-kasus jurnalisme warga:
  • Mayoritas adalah pemberitaan satu sisi, tidak berimbang, tidak ada konfirmasi dan cenderung menghakimi obyek berita.
  • Media online menggunakan prinsip follow up news, bahwa konfirmasi narasumber dapat ditunda pada berita selanjutnya.
  • Pelaku jurnalisme warga belum menguasai nilai-nilai berita, etika jurnalistik, prinsip ruang publik media Pelaku jurnalisme warga bukan jurnalis atau tidak paham bagaimana jurnalis bekerja


Apa yang harus dilakukan?
Pelaku jurnalisme warga harus memahami :
  • Media adalah ruang publik sosial dengan nilai-nilai baku (nilai berita dan kode etik jurnalistik)
  • Profesi jurnalis bukan profesi sembarangan yang dapat dilakukan secara serampangan.
  • Berita berbeda dengan informasi satu sisi, gosip, atau syakwasangka.
  • Kode etik jurnalisme warga
  • Kode etik jurnalisme media online
Yang perlu dibedakan:
  • Media Online : detik.com, vivanews, kompas.com, firstmedia dll
  • Ruang  diskusi Online : twitter, blog, mailing list, dll.
 










Sumber :Agus Sudibyo (Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat dan Penegakan Etika)


Rabu, 07 September 2011

Kisah Tentang Prancis


10 Fakta Tentang Prancis: 


1. Prancis merupakan negara kecil di Eropa Barat.
2. Penduduk Prancis sekitar 60-65 juta orang.
3. Bendera Prancis terdiri dari tiga warna (biru, putih, merah) yang mewakilkan motto negara tersebut, yaitu Liberté, Egalité, Fraternité (Kemerdekaan, Keadilan, Persaudaraan)
4. Prancis sering disebut "L'Hexagone" karena bentuk teritorinya yang heksagonal geometris.
5. Kerajaan Prancis lahir pada abad 8 oleh Raja Charlemagne.
6. Bahasa Prancis lahir pada abad 15 yang berasal dari percampuran bahasa-bahasa daerah, bahasa Romawi halus, dan bahasa Romawi kasar.
7. Pada tahun 1450 bahasa Prancis digunakan sebagai bahasa resmi negara dan bahasa sehari-hari.
8. Hukum-hukum Prancis berasal dari Hukum Romawi (Gabungan hukum adat dan tertulis).
9. Prancis beberapa kali mengubah bentuk negaranya dari Monarki ke Republik beberapa kali.
10. Saat ini bentuk negara Prancis adalah Ve Rep atau dapat dikatakan Republik ke-5



KELAHIRAN RENAISANS

Bermula dari Konstantinopel
Tidak banyak yang tahu jika titik awal kelahiran masa Renaisans berasal dari Kerajaan Kristen Timur atau yang disebut Konstantinopel. Saat sebagian Eropa dikuasai oleh bangsa barbar yang telah menundukan Kerajaan Romawi Barat, hampir semua pelarian dari Eropa mencari suaka di Konstantinopel, termasuk para filsuf beserta dengan buku-bukunya.

Buku-buku mengenai filsafat, kesenian, arsitektur, sastra dan lain-lain peninggalan Bangsa Romawi Barat tersebut telah cukup lama tersimpan di Konstantinopel dengan aman dan terawat. Namun, pada saat Konstantinopel jatuh ke tangan Islam (Istambul), banyak orang-orang Kristen lari menuju Roma dengan membawa buku-buku karya Plato, Aristoteles, dan beberapa filsuf Yunani lainnya. Sejak saat itulah buku-buku mengenai kebudayaan Eropa telah kembali ke Roma, Italia dan mulai dipelajari oleh orang-orang di kota Roma.

Di Italia, ilmu-ilmu yang dipelajari dari buku-buku tersebut diimplementasikan dan diaplikasikan oleh orang-orang kota Roma kedalam era perbaharuan seni lukis dan arsitektur hingga memunculkan karya-karya lukis dan arsitektur yang mempesona.

Renaisans Masuk Ke Prancis
Masuknya Renaisans ke Prancis berawal dari perang kecil yang dilakukan pemimpin Prancis terhadap Italia pada tahun 1515. Perang kecil tersebut pun menghasilkan kekalahan bagi pihak Prancis di Roma. Setelah perang berakhir, pihak Prancis yang kalah dan kembali ke negaranya pulang dengan perasaan kagum dan takjub atas karya seni arsitektur yang ada di Roma, Italia. Kemudian sejak saat itu banyak orang-orang Prancis yang datang ke Italia untuk mempelajari dan meniru kebudayaan Italia untuk dibawa kembali ke negara asal mereka, Prancis. Salah satu hasil karya lukis dan arsitektur yang muncul pada era ini adalah lukisan Joconde (yang berbahagia) dan Kastil "cha teaux de la loire" yang sangat terkenal hingga sekarang.



Abad Kebesaran atau "L' epoque classique" atau "Le Grand Siecle" (Abad 17)
Kebesaran ini ditandai dengan munculnya "Academie Franqaice" atau Badan pendukung budaya Prancis. Sebelum akademi ini berdiri juga telah muncul tokoh-tokoh sastra hebat Prancis seperti Racine dan Moliere.
Akademi ini terbilang sangat berhasil melahirkan para tokoh besar dunia dalam berbagai bidang pada abad 18 seperti Voltaire (Toleransi), Roussean (Ilmu Sosial) Montesquieu (Ilmu Hukum), Diderot dan D' Alembert (Ilmu Teknik dan Sains).

Dampak Revolusi Industri Inggris hingga"Revolution 1789"
Era Rovolusi Ini tidak dialami dengan baik oleh Prancis, terutama pada saat Raja Louis XVI memimpin. Hal ini terjadi akibat ketidakpuasan rakyat atas prilaku Raja yang sangat menyimpang dan hidup ekslusif dengan para bangsawan lainnya sehingga pada saat itu muncul "kasta" yang membagi kelompok sosial menjadi :
1. Raja dan Pangeran serta bangsawan.
2. Profesi Agama seperti Pendeta.
3. Tieis Etat yaitu kelompok masyarakat yang tidak termasuk pada kelompok diatas.



Hal ini telah menimbulkan gejolak yang luar biasa di Prancis dan kelompok Tieis Etat yang memiliki jumlah terbanyak mulai bergerak menuntut dan melawan kepada dua kelompok diatasnya. Penyelesaian yang berlarut-larut yang dilakukan oleh Raja Louis XVI mengakibatkan kemarahan yang luar biasa dari rakyat hingga memunculkan Revolusi Prancis.
Pada Tahun 1792 Raja Louis XVI melarikan diri menuju perbatasan Jerman, namun berhasil ditangkap oleh rakyat dan dibawa kembali ke Ibukota (konon sang Raja tertangkap akibat ada seorang rakyat yang mengenalinya lewat sebuah koin yang bergambar wajah sang Raja).
Setelah Raja Louis XVI dibawa ke Ibukota, kemudian ia dibunuh dengan alat Guillotin (pisau penggal) yang diciptakan oleh dr. Guillotin. Akibat perbuatan rakyat Prancis yang membunuh Raja mereka, negara Prancis sempat dimusuhi oleh negara-negara lain di Eropa yang mayoritas menganut sistem Monarki.

1815, Awal Iere Republique
Pada awal berdirinya Republik, Pelaksana tugas pemerintahan masih sering menghadapi perlawanan-perlawanan dari para bangsawan yang tidak puas akibat kejatuhan monarki dan ingin merebut kekuasaan kembali. Banyaknya aksi-aksi perlawanan tersebut sampai memunculkan istilah Terreur yang pelakunya disebut Terroriste yang saat ini kita kenal dengan istilah Terorisme. Salah satu komplotan yang melakukan aksi ini yaitu Robespierre yang merupakan seorang bangsawan di era Monarki.

Kemunculan Bonaparte
Bonaparte yang terkenal di telinga kita ialah Napoleon Bonaparte yang mulai memimpin Prancis pada tahun 1802. Namun seiring perjalanannya, Napoleon Bonaparte merasa tidak puas dengan sistem yang ada (Bonaparte) dan kemudian mengubah sistem tersebut menjadi sistem Trisula "ala" Italia, yang ia sebut Consulat. Seiring perjalanannya, Consulat pun ia rombak menjadi Emperium seperti pada negara asalnya, Italia, dan ia menamakan dirinya sebagai Napoleon Primere (Napoleon 1'er).
Pada era Emperium, Napoleon 1'er berhasil menaklukan hampir seluruh Eropa dan Afrika Utara (Mesir) dan juga membuat KUHP pertama di dunia.
Salah satu keberhasilannya di Mesir yaitu munculnya Champollion, seorang ilmuan yang berhasil membaca tulisan Mesir kuno.




Era Napoleon 1'er berakhir saat ia kalah dari Inggris dan kemudian diasingkan di Elbe. Sejak saat itu sistem pemerintahan Prancis selaluh berganti-ganti dari Monarki ke Republik selama beberapa kali. saat ini bentuk negara Prancis adalah Republik ke-5 atau "V'e Rep".

PRANCIS, BANGSA YANG BANGGA AKAN BAHASANNYA

Mungkin sebagian orang sering menganggap bahwa orang Prancis adalah orang yang sombong karena jarang sekali menggunakan bahasa asing (terutama Inggris) dalam melakukan percakapan lintas budaya. Tapi taukah anda mengapa hal ini dapat terjadi?
Banyak Faktor yang menyebabkan hal tersebut, salah satunya adalah rasa bangga mereka terhadap kebangsaan dan bahasa mereka yang merupakan salah satu bahasa resmi tertua di dunia. Prancis juga sempat menjadi pemimpin dunia pada masa kejayan mereka sehingga mereka merasa bahasa Prancis adalah bahasa induk dari bahasa-bahasa yang ada di Eropa.
Kemudian dari faktor sejarah, bangsa Prancis beberapa kali mengalami masa pahit akibat kalah berperang, terutama dengan Inggris, hal itulah yang menyebabkan adanya sentimentil warga Prancis terhadap bahasa Inggris.

PRANCIS SEKARANG


Prancis sekarang merupakan salah satu negara maju di dunia dan merupakan tempat yang menjadi favorit turis dunia untuk dikunjungi. Saat ini Prancis dapat dikatakan menjadi salah satu "kiblat" dunia dalam hal Fashion, Teknologi, Otomotif dan lainnya. Namun, diluar kemajuan itu semua, masih ada satu masalah klasik yang selalu menjadi perdebatan hingga sekarang, yaitu mengenai masalah penduduk imigrasi, terutama imigran yang berasan dari bekas daerah jajahannya seperti Al-Jazaera, Tunisia, Senegal, dll. Masalah ini selalu memunculkan dilema bagi negara tersebut karena disatu sisi mereka mendapat keuntungan, di sisi lain mereka harus menanggung beban sosial dari imigran tersebut.

Sumber : Mam Christine (Dosen Bahasa Prancis)