Minggu, 09 Oktober 2011

Anatomi Televisi Indonesia


Hampir setiap hari tentunya anda selalu menonton televisi, baik di rumah maupun di tempat-tempat lainnya seperti di kantor, tempat makan dan lain sebagainya. Namun taukah anda anatomi yang ada di belakang layar dunia pertelevisian di Tanah Air kita?



Menurut Paulus Widiyanto terdapat beberapa hal di dalam anatomi media penyiaran  yaitu:

1. Lembaga/Institusi Penyiaran
Pada dasarnya di Indonesia terdapat tiga lembaga penyiaran, yaitu lembaga penyiaran publik, lembaga penyiaran swasta, dan lembaga penyiaran berbasis komunitas.



2. Badan Usaha
Badan usaha terdiri dari Perseroan Terbatas, Yayasan, dan lan sebagainya
3. Kepemilikan
Dapat dimiliki oleh perorangan, kelompok, maupun seluruh warga negara. Dalam UU Penyiaran, pihak asing hanya boleh memiliki maksimal 20% saham media di Indonesia.

4. Infrastruktur
 Pengaturan mengenai frekuensi gelombang elektromagnet yang pada dasarnya milik penduduk dunia (Public Domain), serta perkembangannya menuju era digital (kabel dan satelit).



5. Konten
Pengaturan konten yang diawasi oleh KPI. Konten ini nantinya juga berhubungan dengan pihak-pihak ketiga seperti production house (PH) dan distributor film.

6. Revenue
Pendapatan yang dapat berasal dari iklan, sponsor, pemgang saham dll.



7. Market
Cakupan area (nasional, regional, lokal) yang nantinya akan mempengaruhi banyak faktor dalam lembaga penyiaran.

8. Audiences
Mengenai Segmen dan taste, yang akan memunculkan lembaga-lembaga rating.

9. Regulator
Pemerintah melalui badan yang terkait yang ditunjuk, baik lembaga "plat merah" maupun lembaga yang independen.



10. Peraturan/Regulasi
Aturan-aturan yang mengatur penyiaran seperti UU Penyiaran, UU Pers, dll.

11. SDM
Sumber daya manusia sebagai aset utama penyiaran, seperti reporter, presenter, programer, dll.

Pada dasarnya, bisnis penyiaran hanya berbicara mengenai rumusan "How To Get Audiences".
Perusahaan penyiaran mencoba mendapatkan "waktu" dari audiences, setelah mendapatkannya, kemudian  mereka akan "menjual" audiences nya tersebut kepada agensi iklan/pengiklan.



Oleh karena itu, untuk menjaga keseimbangan dalam ekosistem ini perlu adanya aturan-aturan yang dapat mendamaikan antara kualitas dengan kuantitas, karena pada hakekatnya televisi merupakan media pendidikan bagi masyarakat.

Tantangan Masa Depan

Tantangan masa depan yang dihadapi televisi nantinya akan menyangkut mengenai teknologi dan infrastruktur, hal tersebut ditandai dengan munculnya mobile broadcasting dan netcasting yang akan berkembang di masa depan.

Hal lain yang juga patut diperhatikan dimasa depan adalah mengenai pemerataan pusat televisi yang hingga saat ini masih "berat" di Jakarta, diharapkan kedepannya dunia televisi tanah air akan merata tersebar di seluruh penjuru Indonesia yang tentunya akan meningkatkan kualitas berbasiskan keunggulan lokal.


Sumber : Paulus Widiyanto

Minggu, 02 Oktober 2011

Media Massa Dan Budaya Massa


Dalam kehidupan sehari-hari, terutama di era modern seperti saat ini, manusia tentunya tidak akan pernah lepas dari pengaruh media massa. Media massa telah ada dan hadir hampir di setiap jengkal kehidupan manusia. Sadar atau tidak sadar, media massa telah mempengaruhi khalayak baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Pengaruh jangka panjang tersebut nantinya akan mempengaruhi kebudayaan massa yang telah menerima pesan secara nyata. Saat ini hampir semua budaya modern yang ada lahir dari budaya massa yang dipelopori dari media massa.

Menurut Bennet dan Tumin, KEBUDAYAAN MASSA adalah : “seperangkat ide bersama dan pola perilaku yang memintas garis sosio-ekonomi dan pengelompokan sub-kultural dalam suatu masyarakat yang kompleks



Budaya massa adalah budaya populer yang diproduksi untuk tujuan menghasilkan keuntungan sebanyak-banyaknya dari khalayak. Budaya massa merupakan langkah yang dipakai untuk menjaga stabilitas dan kesinambungan kapitalisme.
Budaya massa muncul di dalam bentuk selera konsumen dan senang menciptakan impian-impian kepada khalayaknya. Akibatnya budaya massa dianggap masuk kedalam golongan kebudayaan rendah.

Publisitas, reportase dan iklan juga turut menunjang keberhasilan kebudayaan massa. Budaya Massa tidak hanya bersifat material tetapi juga immaterial, seperti cara berpendapat dan berpikir, cara merasakan sesuatu sampai pada tindakan tertentu. Ghanney dan McQuail mengemukakan bahwa peranan media massa dalam kaitannya dengan budaya massa adalah mengendalikan dan mengarahkan perilaku khalayak konsumen. (Contohnya iklan pemilu untuk mempengaruhi perilaku pemilih).
Budaya masa juga dapat berupa Novel, Lagu Pop, Karya budaya untuk konsumsi massa, karya budaya populer, hingga film.



Ada 3 Tahap Perkembangan Media Massa Dalam Kaitannya Dengan Budaya Massa

Wilson mengutip pendapat Ralp Lowenstein dan John Merril mengatakan bahwa ada 3 tahap
perkembangan media massa dalam kaitannya dengan budaya massa :
  1. Tahap Elit 
Berlalunya perkembangan media cetak pada abad 16, maka  BUDAYA ELIT yang merupakan
budaya yang dimonopoli kaum berpendidikan dan kaum kaya serta para aristokrat perlahan
memudar.
Budaya elit mulanya mengacu pada suatu budaya masyarakat kelas atas.Pada saat itu pemisahan
budaya kelas atas dengan kelas bawah masih sangat terasa. Masyarakat bawah hanya berfungsi
sebagai penghibur kaum elit.
 
2. Tahap Populer 
Kondisi di atas tidak bertahan lama, perkembangan media massa memungkinkan rakyat biasa
menikmati, mengikuti, mempelajari segala sesuatu yang sebelumnya hanya dinikmati oleh kelompok
atas.
Pada saat bangkitnya masyarakat untuk memiliki segala sesuatu berdasarkan terpaan media itulah
timbul BUDAYA MASSA.

 
 3. Tahap Spesialisasi
AS dipandang dalam sejarah media massa sebagai bangsa yang mempelopori era spesialisasi media.
Di AS timbul gerakan yang mengarahkan media kepada khalayak tertentu, baik secara demografis 
(berdasarkan usia, pekerjaan, jenis kelamin) maupun psikografis (berdasarkan gaya hidup, perilaku,
 sikap, pandangan)
Pada tahap spesialisasi media dikelola secara profesional kemudia diarahkan kepada khalayak yang
 sudah direncanakan terlebih dahulu.



Sumber : Ibu Aminah