Hampir setiap hari tentunya anda selalu menonton televisi, baik di rumah maupun di tempat-tempat lainnya seperti di kantor, tempat makan dan lain sebagainya. Namun taukah anda anatomi yang ada di belakang layar dunia pertelevisian di Tanah Air kita?
Menurut Paulus Widiyanto terdapat beberapa hal di dalam anatomi media penyiaran yaitu:
1. Lembaga/Institusi Penyiaran
Pada dasarnya di Indonesia terdapat tiga lembaga penyiaran, yaitu lembaga penyiaran publik, lembaga penyiaran swasta, dan lembaga penyiaran berbasis komunitas.
2. Badan Usaha
Badan usaha terdiri dari Perseroan Terbatas, Yayasan, dan lan sebagainya
3. Kepemilikan
Dapat dimiliki oleh perorangan, kelompok, maupun seluruh warga negara. Dalam UU Penyiaran, pihak asing hanya boleh memiliki maksimal 20% saham media di Indonesia.
4. Infrastruktur
Pengaturan mengenai frekuensi gelombang elektromagnet yang pada dasarnya milik penduduk dunia (Public Domain), serta perkembangannya menuju era digital (kabel dan satelit).
5. Konten
Pengaturan konten yang diawasi oleh KPI. Konten ini nantinya juga berhubungan dengan pihak-pihak ketiga seperti production house (PH) dan distributor film.
6. Revenue
Pendapatan yang dapat berasal dari iklan, sponsor, pemgang saham dll.
7. Market
Cakupan area (nasional, regional, lokal) yang nantinya akan mempengaruhi banyak faktor dalam lembaga penyiaran.
8. Audiences
Mengenai Segmen dan taste, yang akan memunculkan lembaga-lembaga rating.
9. Regulator
Pemerintah melalui badan yang terkait yang ditunjuk, baik lembaga "plat merah" maupun lembaga yang independen.
10. Peraturan/Regulasi
Aturan-aturan yang mengatur penyiaran seperti UU Penyiaran, UU Pers, dll.
11. SDM
Sumber daya manusia sebagai aset utama penyiaran, seperti reporter, presenter, programer, dll.
Pada dasarnya, bisnis penyiaran hanya berbicara mengenai rumusan "How To Get Audiences".
Perusahaan penyiaran mencoba mendapatkan "waktu" dari audiences, setelah mendapatkannya, kemudian mereka akan "menjual" audiences nya tersebut kepada agensi iklan/pengiklan.
Oleh karena itu, untuk menjaga keseimbangan dalam ekosistem ini perlu adanya aturan-aturan yang dapat mendamaikan antara kualitas dengan kuantitas, karena pada hakekatnya televisi merupakan media pendidikan bagi masyarakat.
Tantangan Masa Depan
Tantangan masa depan yang dihadapi televisi nantinya akan menyangkut mengenai teknologi dan infrastruktur, hal tersebut ditandai dengan munculnya mobile broadcasting dan netcasting yang akan berkembang di masa depan.
Hal lain yang juga patut diperhatikan dimasa depan adalah mengenai pemerataan pusat televisi yang hingga saat ini masih "berat" di Jakarta, diharapkan kedepannya dunia televisi tanah air akan merata tersebar di seluruh penjuru Indonesia yang tentunya akan meningkatkan kualitas berbasiskan keunggulan lokal.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar